23 Desember, 2008

MENUMPAS AKAR-AKAR TERORISME

Oleh: Drs. Abu Sahrin, M.Ag

Dosen Fak. Ushuludin IAIN SU


Terorisme internasional merupakan kejahatan trans-regional yang kini sedang mengancam belahan bumi tanpa menyisakan tempat untuk bersembunyi. Adapun terorisme menurut Noam Chomsky merupakan kejahatan yang dilakukan oleh sekelompok orang sebagai balasan terhadap kejahatan yang sama yang ditimpakan terhadap orang yang sebenarnya tidak terlibat dan tidak mengerti akar masalah. Sebagai contoh, tragedi WTC dan Pentagon (peristiwa 911)yang merenggut ribuan nyawa di Amerika bukanlah balasan terhadap mereka yang bekerja di dua gedung tersebut. Melainkan ditujukan kepada pemerintah Amerika. Dengan demikian terorisme dilakukan orang selain untuk menakuti pihak musuh, juga menurunkan wibawa musuh di mata publik. Terorisme biasanya dilakukan orang-orang yang putus asa karena aspirasinya tersumbat, contoh dalam hal ini adalah terorisme yang dilakukan oleh kelompok tentara Ira di Irlandia Utara karena tidak mampu melawan pemerintah Inggris secara terbuka, tetapi bisa juga karena persaingan bisnis di antara pengusaha ilegal semacam mavia obat bius di Columbia. Terorisme juga bisa dilakukan oleh pemerintah suatu negara terhadap negara lain. Misalnya serangan Amerika terhadap sejumlah negara, seperti Kuba, Panama, Afghanistan, dan Irak. Terorisme pada dasarnya tidak dibenarkan dalam undang-undang mana pun diseluruh dunia, selain karena menutup jalan-jalan damai juga sangat bertentangan dengan hak-hak asasi manusia.

Indonesia sudah beberapa kali mendapat serangan teror mulai dari masa penjajahan sampai kini. Pada awal-awal Indonesia merdeka tepatnya tahun 1947 penduduk Makasar dibantai secara keji oleh Kapten Westerling, teroris Belanda yang merasa putus asa menghadapi perlawanan rakyat yang tidak mau lagi dijajah. Pada tahun 1948 PKI Muso juga membatai secara keji orang-orang tak berdosa. Pada tahun 1965 PKI juga melakukan terorisme sekali lagi yang menewaskan sejumlah jenderal kita. Begitu juga pembajakan pesawat garuda oleh Imran Dkk sulit dilupakan oleh anak bangsa. Peristiwa lain seperti pemboman Gedung BCA di Jakarta.

Setelah reformasi. Terorisme kembali mengancam dan mencabik-cabik negeri ini. mulai dari peledakan gereja di Medan, kasus Bom Bali dan Mariot, kini kedutaan Besar Australia di Jakarta.

Mencari Akar Masalah Terorisme

Terorisme tidak mempunyai dasar hukum untuk pembenarannya, namun ia tetap saja terjadi dan akan tetap terjadi di belahan bumi ini selama akar masalahnya tidak terselesaikan. Adapun akar masalah yang paling mendasar adalah ketidak adilan suatu negara yang kuat dalam pengambilan suatu kebijakan politik maupun ekonomi. Maksudnya selama masih banyak orang-orang yang merasa tidak diberlakukan secara tidak adil, maka selama itu pula terorisme tetap akan mengancam. Sebagai contoh adalah Amerika adalah suatu negara yang paling banyak mendapat ancaman teroris, karena kebijakannya yang dianggap tidak fair dan selalu saja mengeksploitasi negara lain demi kepentingan politik dan ekonominya. Negara-negara miskin yang dieksploitasi merasa tidak berdaya jika harus berhadapan dengan Amerika. Kelompok-kelompok oportunis memanfatkan ketidak mampuan negaranya menghadapi Amerika dengan melakukan teror.

Sebagai contoh adalah Afghanistan yang kaya akan Uranium dan bahan tambang tetapi miskin sumberdaya manusia, disamping itu Afghanistan adalah suatu negara yang tercabik-cabik oleh perang. Selama perang berlangsung dengan Unisovyet, Afghansitan dibantu oleh saudagar kaya militan yang bernama Osama ben Laden dengan kelompok Al Qaedahnya. Pada mulanya Osama ben Laden dibantu oleh Amerika ketika melawan Unisovyet, tetapi setelah Unisovyet hengkang dari Afghanistan, Osama ben Laden disuruh meninggalkan Afghanistan atau mendapat konsekuensi berhadapan dengan Amerika. Mendapat ancaman seperti itu Osama ben laden merasa ditipu oleh Amerika yang selama bertahun-tahun merupakan kawan seiring ketika mengusir tentara Rusia. Sebagai akibatnya Osama ben Laden balik mengancam Amerika dan bersumpah sampai titik darah terakhir akan mengacaukan Amerika. Padahal orang yang paling bodoh politik pun tahu kalau selama ini Osama dan al-Qaedahnya merupakan kader binaan Amerika, kini balik gagang mengancam Amerika. Dan ini pulalah alasannya mengapa Noam Chomsky menyatakan bahwa akar terorisme adalah kebijakan standar ganda Amerika dan kesukaan Amerika melatih tentara-tentara bayaran untuk mengacaukan musuh-musuhnya, sayang sekali tentara bayaran yang terlatih itu karena diberlakukan tidak manusiawi justru balik mengancam Amerika. Jika ada pertanyaan mengapa Amerika cepat sekali tahu jika ada ancaman teroris, hal ini tidak lain karena Amerika lah yang berjasa melatih mereka. Seperti jemaah Islamiyah yang dituding sebagai dalang peristiwa Bom Bali dan Mariot, kini Kedutaan Australia, juga dulu merupakan binaan Amerika di Afghanistan walaupun melalui perantaraan pasukan Thaliban dan al Qaedah.

Di samping itu kebijakan Amerika di Palestina dan Israel juga jangan diangap sepele, banyak yang simpati terhadap perjuangan Palestina, cara mereka bersimpati juga bermacam-macam, ada yang menyalurkan bantuan seperti uang, bahan makanan maupun senjata secara sembunyi-sembunyi. Tetapi ada juga yang rela mengorbankan nyawanya demi saudara Palestina mereka. Amerika selama ini dikenal sebagai negara yang paling setia membantu Israel, sehingga Amerika dijuluki sebagai Israel besar. Israel tahu dan memanfatkan kebesaran Amerika dan yakin apapun yang dilakukan oleh Israel akan mendapat perlindungan dan pembelaan dari Amerika. Sifat Israel yang selalu bernaung di bawah ketiak Amerika sehingga ia dijuli sebagai Amerika kecil. Setiap upaya jalan damai yang dilakukan di Palestina dan Israel selalu mendapat jalan buntu karena standard ganda Amerika, disatu sisi Amerika menyuarakan perdamaian disisi lain setiap hari rakyat Palestina dibantai oleh Israel dibiarkan saja oleh Amerika. Jika ada ada warga Israel yang mati terutama di pihak sipil, maka itu dianggap sebagai tindakan biadab teroris Palestina, tetapi jika ada rakyat Palestina yang tidak berdosa dibantai oleh Israel, maka Amerika manyatakan bahwa itu sebagai balasan. Jika Palestina mengobarkan perang duluan, maka Amerika menyebutnya sebagai pelanggaran kesepakatan damai, namun jika yang melanggar adalah Israel dan membantai rakyat Palestina, maka Amerika menyebutnya sebagai premtife (aksi mendahului). Demikianlah sederetan ketidakadilan yang dipertontonkan Amerika.

Kini keadaan dunia sudah sangat kacau akibat ulah terorisme, apakah terorisme kecil yang tidak terlihat dan sulit mendeteksi orangnya, dan kelompok mana, maupun terorisme besar-besaran seperti yang dilakukan oleh Amerika terhadap Afghanistan dan Irak. Kedua teroris itu harus dijinakkan tidak dengan kekuatan senjata, karena dunia sudah muak dengan senjata. Desingan peluru juga hanya akan menghasilkan peluru yang sama yang membuat dunia ini semakin terbakar, dan membuat teroris semakin merajalela. Sudah saatnya ada negara-negara yang mepelopori pemberantasan terorisme secara damai. Adapun kata kunci yang digunakan dalam pemberantasan teroris ini adalah perdamaian dan keadilan, sebab tanpa adanya keadilan, maka senjata sekuat apapun tidak akan mampu memberangus terorisme. Karena akar masalah terorisme adalah tidak tegaknya keadilan di seantero jagat ini. Jika keadilan tegak maka terorisme dijamin akan hilang dengan sendirinya. Memelihara dan membiarkan ketidakadilan berlangsung, berarti menumbuh suburkan terorisme. Di samping itu juga hukuman terhadap pelaku-pelaku teror juga harus betul-betul membuat pelakunya kapok. Di samping itu norma-norma sosial yang dilandaskan kepada religiositas harus ditegakkan bukan atas dasar legal-formal dari agama itu. Sebab agama diturunkan kepermukan bumi ini adalah untuk kebutuhan manusia, yang membuat manusia lebih berharkat dan bermartabat dan semakin tegaknya hak-haknya sebagai makhluk hidup. Semantara kata kunci dari masing-masing agama adalah keadilan dan kasih sayang, jika orang beragama kehilangan kasih sayang dan tidak mencintai keadilan, maka pengakuannya sebagai umat beragama pantas diragukan. Orang yang mengaku beragama tetapi melakukan teror, pengakuan mereka pantas diragukan, karena terorisme tidak punya agama. (wallahu ‘alam bishshawab)

(Drs. Abu Sahrin, M.Ag)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar